a. Aparat
keamanan
Pandangan aparat keamanan mengenai pelajar dan mahasiswa
yang memakai pakaian terbuka dan ketat di kota Malang. Seorang Polisi dari
KAMTIBMAS mengatakan bahwa adanya pelajar dan mahasiswa memakai pakaian yang
ketat atau terbuka banyak memicu tindak kriminal seperti pelecehan dan
pemerkosaan. Korban pelecehan atau pemerkosaan pada umumnya dialami oleh para
pelajar atau mahasiswa perempuan, karena mereka merupakan obyek yang melakukan
atau memakai pakaian tersebut. Bentuk tubuh perempuan cukup membuat para
laki-laki merasa terangsang untuk melakukan pelecehan maupun pemerkosaan. Dalam
mengatasi masalah ini diperlukan kerjasama oleh banyak pihak terutama orang tua
dan guru untuk memberi pengertian kepada putra-putrinya.
b. Tokoh
Agama
Para tokoh agama sangat mengkhawatir dengan adanya para
pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian ketat dan terbuka di lingkup dunia
pendidikan karena mereka merupakan penerus bangsa dan negara. Memakai
pakaian yang terbuka dan ketat tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Padahal
dalam Al-Quran telah dijelaskan etika berpakaian yang harus dilaksanakan
seorang muslim. Terutama oleh muslimah, karena aurat perempuan adalah seluruh
tubuh kecuali wajah, tangan dan telapak kaki. Namun yang terjadi pada saat ini
malah sebaliknya para perempuan cenderung memamerkan tubuhnya dengan rasa
bangga di depan umum. Upaya yang dapat dilakukan untuk menangani masalah ini
dengan lebih meningkatkan pengetahuan agama para pelajar dan mahasiswa,
sehingga mereka mempunyai pengetahuan agama yang luas dan didorong untuk
melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
c. Tokoh
Akademisi
Para akademisi memandang pelajar dan mahasiswa yang
memakai pakaian yang ketat dan terbuka dalam dunia pendidikan merupakan kemajuan
zaman yang berdampak kepada lunturnya budaya sopan santun yang selama ini
menjadi identitas bangsa dan negara Indonesia. Masalah ini perlu segera
diselesaikan, upaya yang dapat ditempuh dengan membiasakan budaya malu kepada
pelajar dan mahasiswa. Para pendidik baik di sekolah maupun di kampus sebaiknya
mendidik mereka dengan menumbuhkan rasa malu pada diri sendiri. Cara yang dapat
ditempuh dengan meminta pelajar atau mahasiswa yang berpakaian ketat dan
terbuka untuk menghapus papan tulis, dengan cara seperti itu secara langsung
bagian belakang dari pakaian yang ketat akan terangkat dan punggung dari
pelajar atau mahasiswa tersebut akan kelihatan oleh teman-temannya. Teman-teman
yang melihatnya secara spontan akan menertawakannya. Dan inilah yang membuat
orang bersangkutan tersebut merasa malu.
d. Tokoh
Masyarakat
Menurut pendapat seorang tokoh masyarakat, adanya pelajar
dan mahasiswa yang memakai pakaian yang ketat atau terbuka semuanya tergantung
pada keadaan orang tua, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Pelajar
dan mahasiswa tumbuh dan berkembang dengan baik karena pengaruh pendidikan yang
diberikan oleh orang tua, karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama.
Beliau juga mengatakan: timbulnya pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian
ketat dan terbuka dapat dikurangi dengan cara memperbaiki kekurangan yang ada
dalam keluarga, termasuk dalam perbaikan pola pendidikan keluarga.
Perbaikan pola
pendidikan dapat dilaksanakan dengan menambah pengetahuan orang tua
untuk mendidik putra-putri mereka secara tepat sesuai dengan perkembangan zaman
yang terus berkembang, sehingga dengan demikian budaya sopan dalam berpakaian
tetap dapat di pertahankan.
Alternatif Penanganan Lunturnya Budaya Berpakaian
Sopan Dalam Dunia Pendidikan
Dengan melihat realita yang terjadi terhadap masalah berkembangnya trend
pakaian di dunia pendidikan yang semakin melunturkan etika sopan santun,
sehingga diperlukan alternatif model penanganan yang
perlu diuji cobakan terhadap permasalahan yang sedang terjadi. Adanya model ini
tidak terlepas dari alternatif penanganan yang telah dilakukan pada waktu yang
lalu, karena diperolehnya model ini dengan cara mengkaji penanganan yang telah
dilakukan. Misalnya: penetapan seragam untuk
para pelajar.
Model penanganan untuk masalah ini dapat dilakukan dengan
membiasakan para pelajar dan mahasiswa untuk memakai pakaian yang formal.
Pembiasaan ini dapat dilakukan waktu pelajar atau mahasiswa baru mengikuti
kegiatan belajar mengajar di sekolah atau di kampus tersebut. Pembiasaan tanpa
ada aturan akan terasa kurang tepat, sehingga untuk memecahkan masalah ini
diperlukan aturan dan sanksi yang tegas dari lembaga yang bersangkutan.
Menetapkan aturan cara berpakaian, sebagai salah satu alternatif yang dapat
diikuti dengan cara-cara sebagai berikut:
Memasang
poster yang berisi moto-moto di sekolah-sekolah atau di kampus, sehingga dengan
mudah akan dibaca oleh pelajar dan mahasiswa. Supaya isi moto-moto tersebut
dapat dilaksanakan oleh pelajar dan mahasiswa diperlukan aturan-aturan yang
tegas dengan sanksi yang tegas. Salah satu contoh tulisan untuk membuat
seseorang memakai pakaian yang sopan dapat dibuat tulisan sebagai berikut: Tiada
kesan tanpa penampilan yang baik. Penampilan yang baik tercermin dari pakaian yang kita pakai.
Cara untuk mendapatkan citra berpakaian yang baik dapat dilakukan upaya
sebagai berikut:
a.
Memakai pakaian dengan ukuran yang pas.
b.
Usahakan pakaian rapi dan tidak kedodoran.
c.
Usahakan model pakaian yang sopan (pakaian atasan menutup
bagaian atas sampai ke pinggang, berkerah, lengan tertutup sampai ke bahu,
pakaian bagian bawah harus longgar, menutup bagian tubuh sampai ke pinggang,
dan semuanya baik atasan maupun bawahan longgar)
d.
Pilih warna yang tidak menyolok dan bertabrakan.
e.
Pilih model pakaian yang tidak terlalu kuno.
Aturan seperti di atas perlu ditulis dan dijadikan aturan yang resmi
sehingga para pelajar dan mahasiswa sulit untuk melanggarnya. Dengan aturan
seperti di atas pelajar dan mahasiswa masih dapat menentukan model pakaian yang
mereka inginkan namun hanya mode pakaian tertentu yang dapat dipakai. Kesan
terlalu mengikat juga masih dapat dihindarkan, sehingga dengan cara seperti ini
pelajar dan mahasiswa tidak akan memprotes keputusan yang telah dibuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar